Annyeonghaseyo... perkenalkan dulu ya? namaku Neny Ufroni Mustafani.
ini aku ngepost ff pertamaku. maklum, ceritanya kalau jelek. ya kayak pasaran deh..
BECAUSE
IT’S YOU
Oleh; Neny Ufroni Mustafani
CHAPTER 1;
Adakah?
Dunia yang bisa membuat seseorang menjadi lebih nyaman, Dan dunia yang bisa
dibuat untuk memecahkan pikiran,harapan,merasakan kebahagiaan dan hal yang
lainnya. Bahwa yang ada pada dirinya hanya sebuah dunia yang begitu keras
baginya. Hidupnya selalu dikelilingi kesedihan tanpa sedikitpun pernah
merasakan apa itu bahagia dan perasaan bangga. Bagaimana mungkin dunia yang
keras bisa berubah menjadi dunia yang lebih nyaman?...
***
Hari
ini aku akan bertemu dengan temanku, teman satu-satunya dalam kehidupanku.
Bagiku dia adalah seseorang yang bisa membuatku lebih merasa nyaman. Tapi,
akankah ini selamanya dia di dalam kehidupanku. Akankah dia selalu ada untukku.
Kalau begitu, apa susahnya menerima keadaan yang ada dan yang seperti ini.
Segera
ku naik kesepeda untuk menuju taman kota, tempat yang akan ku datangi bersama
temanku. Dunia di luar sangatlah bising bagiku, membuat kepalaku serasa ingin
pecah. Kulihat dari kejauhan itulah temanku, rupanya dia sudah menunggu. dia
sedang memarkirkan sepedanya. Dan ku letakkan sepedaku berada di samping
sepedanya. Ku pastikan mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol, tepatnya di
ayunan taman kota.
“Hai!
Kau kenapa?” Seruku padanya yang sedari tadi melamun.
“Oh.
Gwenchana.”
“Memangnya
ada perlu apa kau mangajakku untuk kesini?” suasana hening
“Nara…”
“Ne.”
“Sebenarnya
ada yang mau ku omongin. Tp…”
“Tapi
kenapa?” Memastikan omongannya.
“Sebenarnya
aku akan… tapi janji ya, kau tidak boleh sedih?”
“kau
ini, membuatku penasaran. Ada apa?” Huh, orang ini membuatku penasaran saja.
“aku
akan pergi keluar kota. Bisa dikatakan pindah.” Jelasnya padaku.
“Ha!.
Kau akan pergi?” Tanya ku dengan rasa tidak percaya. Mungkin ini leluconnya
saja. Agar membuatku jadi sedih. Aku sudah tahu, biasanya dia seperti itu.
“Ne, Begitulah…” kulihat dia meneteskan air mata
Kupeluk
temanku, dengan menangis.kelihatannya ini tidak lelucon, ini sungguhan. Aku tak
mau kehilangan seseorang yang sudah begitu dekat denganku.aku tidak akan rela
bila ia pergi, aku hanya ingin dia disampingku selamanya. Tidak ada yang lain
selain dia. Sungguh aku tidak sanggup untuk menerima ini. Apa yang harus ku
lakukan…
“Apakah
selamanya?...” tanyaku dengan nada samar-samar.aku tidak bisa untuk menerima
kenyataan ini.
“Molla,
maaf tidak bisa menjadi temanmu yang selalu ada di sampingmu dan…” Jawabnya
dengan menangis.
“Tidak.
Kau sudah menemaniku setiap hari, dan selalu ada disampingku. Aku yakin kita tidak bisa sampai disini saja kan?”
potongku
“Entahlah,
pasti kita bertemu lagi. Sungguh! Kita juga masih bisa saling sms.” Ucapnya
dengan menghapus air mata yang berada dipipinya.
“Baiklah…
apa ini hari terakhir kita?” Tanya ku.
“ne…
mianhae. Jeongmal mianhae?..” jawabnya dengan meminta maaf maaf atas semua ini.
Kenapa?
Kenapa semua ini terjadi pada diriku.. yang baru saja merasa sedikit
kebahagiaan bersama seorang teman, salah satunya adalah teman satu-satunya
teman di dalam kehidupanku. Dialah yang membuatku bisa merasakan mempunyai
teman.
Aku
berdiri dari ayunan itu dan mengajak Hana untuk membeli sesuatu yang berada di
sekeliling taman kota. Dan berusaha untuk melupakan apa yang terjadi. Untuk
berusaha tersenyum walaupun badai sedang malanda kita. Aku tidak ingin rasa
sedih ini dengan terus menerus ku bendung. Aku harus kuat dengan semua ini.
Kupastikan kita hanya membeli makanan yang berda disekitar taman kota.ini
adalah hari terakhirku dengan Hana. Aku ingin mengatakan pada dunia bahwa aku
tidak sanggup.
***
Ku
raih ponselku yang berada di saku ku. Dan aku ingin menghubungi Hana, bagaimana
keadaannya sekarang. Setalah dua hari ini tidak ada kabar. Aku ingin mengatakan
bagaimana hidup disana, pasti menyenangkan dan juga kau pasti sibuk
sampai-sampai kau tidak sempat menghubungiku.
“Huh,
Kenapa kau tak membalasnya? Apa kau lupa denganku.” Kataku dengan rasa kesal
dan nada yang cukup keras, setelah satu menit ku kirim pesan pada Hana.
“Kelihatannya
kau merindukan seseorang!.” Seseorang namja yang tiba-tiba berkata seperti itu,
yang membuatku cukup kaget.
“ne,
bisa dibilang seperti itu.” Jawabku dengan rasa malu pada namja yang berada di
sampingku. Yang tiba-tiba ikut duduk disampingku.
“kenalin,
aku Park Young min .” sambil mengulurkan tangan kearahku.
“oh,
aku Kim Nara.” Aku menerima uluran tangan dari Young Min.
“Nama
Park mengingatku pada seseorang”
“Oh
ne? noogo?”
“Hanya
teman.”
“Arraseo,
Apa kau lapar?” Tanyanya
“Anio,
aku sudah sarapan.” Tolakku.
“Oh.”
Jawabnya singkat.
“Oh
maaf, aku harus segera pergi ke kelas.” Ucapku.
Baru
sekarang aku sadar, kau ini hanya membuatku merasa sedih. Sekarang kau tidak
mengingatku. Apa kau senang-senang disana bersama teman yang baru. Sungguh
tidak adil dunia ini. Mulai sekarang lupakan saja tentang itu, Aigoo bagaimana
bisa..eottokhae? Huh. Aku tidak boleh melupakannya, dia sangat berarti bagiku.
Kini
aku tengah diperjalanan pulang sekolah, sejak dua hari aku pulang sendiri dan
berangkat sendiri. Rasanya seperti bosan dengan kehidupan seperti ini. Biasanya
ada Hana, dia suka curhat padaku dan apapun masalahnya pasti dia cerita padaku.
Tapi sekarang, aku dengan siapa. Tidak ada seseorang yang bisa di jadikan
teman. Aku rasa, aku tidak akan menemukan teman seperti Hana.Eh!. ada sms. Ku
ambil ponselku dari saku. Rupanya Hana menjawab smsku. Dia baik-baik saja,
syukurlah kalau begitu.
***
Kurapikan
buku-buku yang tampak berserakan diatas meja belajar maupun di ranjang.Dan
setelah selesai kubersihkan segera ku menulis buku harianku sambil melihat
suasana pemandangan dan menunggu matahari terbenam dari atas kamarku. Kulihat
seorang namja sedang naik sepeda sendirian, dengan menggenakan sepeda berwarna
merah dan baju kemejan merah kotak-kotak. Kupandangi namja itu, rupanya dia
sangat tampan. Dan ternyata namja itu kerumahnya Tuan Kang tetanggaku. Tapi,
mengapa dia kerumah tuan Kang, sebelumnya aku tidak pernah Tuan Kang mempunyai
anak namja. Setahuku Tuan kang hanya mempunyai anak yeoja tapi masih kecil. Dan
juga aku baru mengetahuinya pertama kali melihat namja itu. Ah Sudah, aku akan
segera mandi.
Setelah
rapi, kuputuskan untuk pergi ke taman kota. Aku rindu tempat yang biasanya ku
tempati bersama Hana waktu Hana masih berada di kota ini. Dan aku akan cari
makan diluar saja.
“Tok
tok tok!. Nara…” Panggil Eomma sambil ngetuk pintu kamarku.
“Ne
Eomma. Wae?” Jawabku sambil mengalungkan tasku ke bahuku. Dan kubuka pintu
kamarku.
“Nara,
Kau jaga rumah ya. Appa dan Eomma akan pergi ke acara temannya Appa.” Suruh
Eomma.
“Tapi
Eomm…” kataku
“Sudahlah.”
Sahut Eomma.
“Ahjuma
kan ada, mengapa harus aku yang ada dirumah. Aku ingin keluar..” Kataku dengan
pelan.
***
Aku
tahu, bagaimana Eomma tahu kalau aku sedang pergi, Kuputuskan untuk pergi dari
rumah. Rasanya senang. Ku gayuh sepedaku dengan melintasi jalan. Tepat di depan
rumah Tuan Kang, aku melihat namja itu keluar. Dan searah dengan ku. Saat itu
aku merasa entahlah ada apa denganku. Kulewati namja itu, namja itupun tak
menghiraukanku padahal aku sudah menggayuh sepedaku dengan sangat pelan. Payah,
sudahlah biarkan saja.
***
kuputuskan
aku memasuki cafe di sekeliling taman kota. Aku memesan cafe-latte. Dengan
tidak sengaja aku melihat namja itu lagi, dia memasuki cafe ini. Omo, ini luar
biasa. Kupandangi namja itu, namja yang polos tapi sangat kyeopta bagiku.
Kenapa namja itu tak mengubrisku sama sekali. Tadi aja di depan rumah tuan Kang
dia sama sekali tidak memerhatikanku sedikitpun. Aku akan menunggu sampai dia
keluar.
“Hey,
Nara!” Panggil seorang teman satu kelasnya.
“Ya,
Se Na kau mengagetkanku saja.”
“Kau
sendiri? Hana mana?.”
“Ne,
apa kau tidak tahu, Hana kan sudah pindah ke luar kota.”
“Oh,
Mianhae..?”
“kau
pura-pura tidak tahu, apa kau sudah mengetahuinya?”
“Omo,
kau ini. bagaimana mungkin aku bertanya jika aku sudah mengetahui tentang itu.”
“Huh,
sudahlah. Jangan ingatkan aku lagi mengenai itu. Aku frustasi”
“Araseo…
Araseo.., Aigo, kenapa Hyemi belum datang.”
Anak
ini mengagetkanku saja, Se Na dan Hyemi adalah teman sekelasku. Dia melihatku
yang lagi duduk sendirian, dan mengatakan nama Hana. Sungguh aku tidak bisa
menerima kepergiannya. Aku sudah mulai bisa hidup tanpa Hana tapi Se Na malah
menyebut nama itu tadi. Rasanya kepalaku benar-benar ingin pecah.Tidak lama
kemudian Hyemi datang.
“Kau
kenapa lama sekali?” Tanya Se Na pada Hyemi.
“Mianhae..
aku hampir lupa.” Jawab Hyemi sambil ngos-ngosan
“What!
Dasar kau ini” Kesal Se Na
“hehe.
Hei Nara kau juga disini?” Kata Hyemi
“Ne.”
jawab Nara
“Kau
sendiri..” ucap Hyemi
“Ya,
dia sendiri disini, karena Hana sudah pindah ke luar kota.” potong Se Na.
“Omo,
Kau sekarang sendiri. Kau boleh bergabung jadi teman kami. Pasti seru.” Ucap
Hyemi
“iya,
Kau mau kan?” Tawar Se Na.
“Oh,
mollayo… aku tidak tahu, aku harus bagaimana. Aku takut akan kehilangan
seseorang teman lagi. Aku tidak mau itu.” Jawab Nara sambil matanya
berkaca-kaca.
“Anio,
kami pasti tidak akan begitu.” Balas Hyemi
“Percayalah
Nara..” Seru Se Na sambil tersenyum.
“Ne,
aku akan bersama kalian”. Jawab Nara dengan menangis bahagia, memeluk Se Na dan
Hyemi.
Sore
menjelang malam ini adalah dimana aku menemukan seorang teman baru. Aku senang
atas kehadirannya. Tapi, aku takut bila kehilangannya. Aku berdiri dari kursi
kafe ini, dan melihat ke arah namja yang tadi. Ternyata namja itu sudah tidak
ada. Kapan dia pergi. Mungkin tadi saat aku bicara dengan Se Na dan Hyemi.
“Nara!
Kau kenapa?” Tanya Se Na yang sedari tadi malihat Nara melamun.
“oh,
gwenchana.” Jawab Nara
“Se
Na! Hyemi! Ayo kita pergi?” ajak Nara
pada mereka berdua.
“Ne.
kemana?” Tanya mereka berdua.
“Pulang.”
Jawabku
“okey,
sampai ketemu besok. Hati-hati.” Kata Se Na.
“Ne..”
Jawbku lagi
Sampai
dirumah, untung Appa dan Eomma belum pulang. Aku berjalan menuju kamarku. aku
membaringkan tubuhku sejenak, aku berfikir ini aneh, aku memikirkan namja itu.
Kenapa aku memikirkannya kenal dia saja tidak. Aigo, bagaimana ini bisa
terjadi.sedari tadi aku berfikir tentang itu, sampai-sampai aku ketiduran.
***
Pagi
ini aku bangun dengan perasaan gelisah. Sebuah mimpi masuk ke dalam tidurku,
bahkan bisa di bilang mimpi buruk. Mimpi yang sebenarnya adalah mimpi indah.
Tapi mimpi itu akan terasa begitu indah seandainya Hana masih berada disini.
Hana kau membuatku serasa dunia ini menjadi fana. Hah, aku lupa tadi sore Se Na
dan Hyemi memutuskan aku untuk bergabung dengan mereka. Walaupun begitu, sama
saja tidak seperti Hana.
“Huh,
ini sudah jam berapa? Aku pasti akan terlambat.” Kataku dengan tergesa-gesa
***
Untunglah
belum sampai terlambat. Kalau sudah terlambat pasti tidak boleh masuk. Ku
berjalan menuju kelas. Dengan perasaan yang sedikit kegembiraan. Di kelas
suasana begitu biasa. Tidak ada yang menarik.
“Nara
ah…” Sapa Se Na dan Hyemi.
“Ne..” jawabku dengan
senyum yang kupaksakan.
“Kau kenapa?”tanya sena
“Kau kenapa?”tanya sena
“tidak apa-apa” jawabku singkat
“Kau seperti itu masih di bilang baik baik saja?” sahut
Hye mi
“Sudah ku bilang tidak ada apa-apa”jawabku
“Huh, sudah-sudah.” Ucap Sena

No comments:
Post a Comment